Suatu pagi, akhir pekan di bulan Juni. Aku mencoba menahan dan membuang segenap kebencianku. Ada jiwa kecil tak berdosa di sampingku. Dan aku luluh untuk kembali menjadi artis di depannya. Seolah tak ada konflik diantara ayah dan ibunya. Seolah kami baik- baik saja. Seolah kami menikmati hakhir pekan dengan sukacita. Beberapa mata bahkan tak menangkap kami pasangan bermasalah dan dalam detik- detik akhir menunggu keputusan pengadilan untuk sebuah perceraian.
Laki- laki itu sengaja membayar lebih agar Key bisa bermain lebih lama. Dia duduk tepat di sampingku. Menatapku dengan dalam. Matanya penuh tatapan harap. Mata yang tanpa dosa dari tubuh yang membuat aku terkungkung dalam kebencian yang dalam. Aku berubah menjadi wanita dingin lagi. Aku tahu ia sedang mencoba meluluhkan perasaanku. Aku bisa merasakannya. Dia juga menunjukkannya. Dia mulai mengusap lembut beberapa helai rambut yang jatuh menutup sebagian keningku.Dia tahu aku sedang sakit hari itu.
Tuhan...aku tidak mau membenci laki- laki ini. Dia menatapku dengan tatapan yang mengiris sebagian hatiku. Aku menyadarkan diriku kembali, menyusun kekuatan untuk bersikap netral. Aku bukan seorang musuh yang bengis, itu bukan aku. Aku ingin mengasihi laki- laki ini dengan cara lain, aku ingin membebaskannya. Dan kembali padanya bukan pilihan yang tepat. Aku tidak punya jaminan pasti, sampai kapan ia harus bersabar menungguku bisa membunuh benciku secepat kilat.
Dia memohon padaku untuk mempertimbangkan keputusanku. Aku menatapnya, dan meyakinkannya lagi, aku tetap pada keputusanku. Aku mau bahagia, aku mau sehatkan jiwaku. Aku mau dia juga bahagia dengan hidupnya, dan aku bukan orang yang tepat untuknya. Dia tampak memelas, aku tahu dia serius dengan keinginannya. Dan aku juga serius, menikah dengannya bukanlah sesuatu yang bisa membahagiakannya. Terlalu banyak dendam, kebencian, dan luka padaku. Aku sudah coba mengurai satu- satu namun menyerah dan memilih mengakhiri semuanya.
Laki- laki itu memilih menyimpanku seumur hidupnya. Aku tidak yakin itu keluar dari hatinya. Semoga saja tidak. Aku berharap dia masih membuka hatinya untuk perempuan lain, dan itu bukan aku. Aku sangat tahu dia, bagaimana ia, terutama masalah seksualnya. Aku dia bisa menikmati karunia Tuhan untuk kebutuhan itu, tapi bukan dengan aku. Aku peduli dengan dirinya, dan aku juga peduli dengan diriku. Dia mengataiku egois, mungkin benar. Sesekali, aku juga harus egois kupikir.
Aku bangga dengan beberapa perubahan dalam hidupnya, terutama masalah relasi dia dengan Tuhan. Dan aku mencoba meyakinkannya, semua perubahan itu baik untuk dirinya, bukan untuk dan karena siapapun termasuk aku. Aku bangga, aku katakan itu padanya. aku tidak mau lagi jadi pembohong, kukatakan padanya, kelaminku tidak pernah bisa memaafkan kelaminnya. Dan itu masalah besar jika kami putuskan untuk rujuk, aku butuh waktu dan tak ada jaminan sampai kapan itu.
" Aku tahu kamu kecewa dengan keputusanku. "
Untuk laki- laki itu :
" aku bisa menyayangimu dengan lebih indah ketika aku meresponmu sebagai orang lain, sebagai sahabat, sebagai ayah key. Ketika diriku mengenalimu sebagai suamiku, kebencian demi kebencian bertubi- tubi menyerangku, aku tersiksa. Aku ingin memaafkanmu, tetapi kelaminku tidak.
kita menyayangi key. Aku percaya, kamu mulai merasakan betapa berartinya dia bagi kita berdua. Bukan aku denganmu kembali , kuharap engkau mengerti bagaimana aku. Aku seorang yang kuat memegang keputusan dan prinsip. Dan engkau juga mengerti betapa lembutnya hati dan perasaanku, meskipun aku bukan seorang perempuan yang lembut dan feminim.
terimakasih, kamu memberi penghargaan sebagai seorang yang kamu percaya untuk memebesarkan dan merawat key. Aku tidak akan pernah mengkhiananti kepercayaanmu padaku tentang hal ini. Sebagai perempuan aku tersanjung. Terimakasih kamu bisa melihatku bukan dari apa yang tampak , melihatku sampai ke dalam yang tersembunyi, setelah peristiwa ini. Akhirnya kamu bisa melihatku secara utuh sebagai seorang perempuan.
Maafkan aku, inilah keputusan terakhirku. Aku hanya berharap, kita belajar dari pengalam ini. Aku mendukungmu untuk bahagia, termasuk ketika akhirnya ada hati yang lain yang lebih indah mengisi kehidupanmu selanjutnya. Maafkan aku, biarkan aku menikmati kesnedirianku untuk saat ini. Biarkan aku membebaskan diriku untuk bangkit dari semua keterpurukkanku.
Maafkan aku, aku bulat dengan keputusanku. Aku tidak mau menyakiti siapapun lagi. Aku menyayangi orangtuaku, aku menyayangi anakku, aku menyayangi diriku. Aku tidak mau sakiti engkau juga. Kamu layak untuk meneruskan hidupmu dan layak untuk mengejar mimpimu yang lain. Jangan jadikan aku sesuatu yang menghentikan kehidupanmu. "
Dan bukan siapa- siapa yang akan bangga ketika kamu bisa mengalahkan ketakutanmu kecuali engkau sendiri. Dan tak ada yang lebih bangga ketika kamu bisa menunjukkan perubahan terbesar dan terbaik dalam hidupmu kecuali kamu sendiri. Hiduplah untuk hidup, berubahlah untuk dirimu, bertumbuhlah untuk dirimu. Tanpa kamu kamu harus meminta, siapapun di sekitarmu akan menghargaimu. Selamat berjuang. Demi key, demi ibumu, demi hidupmu sendiri. Aku masih sahabatmu sampai detik ini.
Laki- laki itu sengaja membayar lebih agar Key bisa bermain lebih lama. Dia duduk tepat di sampingku. Menatapku dengan dalam. Matanya penuh tatapan harap. Mata yang tanpa dosa dari tubuh yang membuat aku terkungkung dalam kebencian yang dalam. Aku berubah menjadi wanita dingin lagi. Aku tahu ia sedang mencoba meluluhkan perasaanku. Aku bisa merasakannya. Dia juga menunjukkannya. Dia mulai mengusap lembut beberapa helai rambut yang jatuh menutup sebagian keningku.Dia tahu aku sedang sakit hari itu.
Tuhan...aku tidak mau membenci laki- laki ini. Dia menatapku dengan tatapan yang mengiris sebagian hatiku. Aku menyadarkan diriku kembali, menyusun kekuatan untuk bersikap netral. Aku bukan seorang musuh yang bengis, itu bukan aku. Aku ingin mengasihi laki- laki ini dengan cara lain, aku ingin membebaskannya. Dan kembali padanya bukan pilihan yang tepat. Aku tidak punya jaminan pasti, sampai kapan ia harus bersabar menungguku bisa membunuh benciku secepat kilat.
Dia memohon padaku untuk mempertimbangkan keputusanku. Aku menatapnya, dan meyakinkannya lagi, aku tetap pada keputusanku. Aku mau bahagia, aku mau sehatkan jiwaku. Aku mau dia juga bahagia dengan hidupnya, dan aku bukan orang yang tepat untuknya. Dia tampak memelas, aku tahu dia serius dengan keinginannya. Dan aku juga serius, menikah dengannya bukanlah sesuatu yang bisa membahagiakannya. Terlalu banyak dendam, kebencian, dan luka padaku. Aku sudah coba mengurai satu- satu namun menyerah dan memilih mengakhiri semuanya.
Laki- laki itu memilih menyimpanku seumur hidupnya. Aku tidak yakin itu keluar dari hatinya. Semoga saja tidak. Aku berharap dia masih membuka hatinya untuk perempuan lain, dan itu bukan aku. Aku sangat tahu dia, bagaimana ia, terutama masalah seksualnya. Aku dia bisa menikmati karunia Tuhan untuk kebutuhan itu, tapi bukan dengan aku. Aku peduli dengan dirinya, dan aku juga peduli dengan diriku. Dia mengataiku egois, mungkin benar. Sesekali, aku juga harus egois kupikir.
Aku bangga dengan beberapa perubahan dalam hidupnya, terutama masalah relasi dia dengan Tuhan. Dan aku mencoba meyakinkannya, semua perubahan itu baik untuk dirinya, bukan untuk dan karena siapapun termasuk aku. Aku bangga, aku katakan itu padanya. aku tidak mau lagi jadi pembohong, kukatakan padanya, kelaminku tidak pernah bisa memaafkan kelaminnya. Dan itu masalah besar jika kami putuskan untuk rujuk, aku butuh waktu dan tak ada jaminan sampai kapan itu.
" Aku tahu kamu kecewa dengan keputusanku. "
Untuk laki- laki itu :
" aku bisa menyayangimu dengan lebih indah ketika aku meresponmu sebagai orang lain, sebagai sahabat, sebagai ayah key. Ketika diriku mengenalimu sebagai suamiku, kebencian demi kebencian bertubi- tubi menyerangku, aku tersiksa. Aku ingin memaafkanmu, tetapi kelaminku tidak.
kita menyayangi key. Aku percaya, kamu mulai merasakan betapa berartinya dia bagi kita berdua. Bukan aku denganmu kembali , kuharap engkau mengerti bagaimana aku. Aku seorang yang kuat memegang keputusan dan prinsip. Dan engkau juga mengerti betapa lembutnya hati dan perasaanku, meskipun aku bukan seorang perempuan yang lembut dan feminim.
terimakasih, kamu memberi penghargaan sebagai seorang yang kamu percaya untuk memebesarkan dan merawat key. Aku tidak akan pernah mengkhiananti kepercayaanmu padaku tentang hal ini. Sebagai perempuan aku tersanjung. Terimakasih kamu bisa melihatku bukan dari apa yang tampak , melihatku sampai ke dalam yang tersembunyi, setelah peristiwa ini. Akhirnya kamu bisa melihatku secara utuh sebagai seorang perempuan.
Maafkan aku, inilah keputusan terakhirku. Aku hanya berharap, kita belajar dari pengalam ini. Aku mendukungmu untuk bahagia, termasuk ketika akhirnya ada hati yang lain yang lebih indah mengisi kehidupanmu selanjutnya. Maafkan aku, biarkan aku menikmati kesnedirianku untuk saat ini. Biarkan aku membebaskan diriku untuk bangkit dari semua keterpurukkanku.
Maafkan aku, aku bulat dengan keputusanku. Aku tidak mau menyakiti siapapun lagi. Aku menyayangi orangtuaku, aku menyayangi anakku, aku menyayangi diriku. Aku tidak mau sakiti engkau juga. Kamu layak untuk meneruskan hidupmu dan layak untuk mengejar mimpimu yang lain. Jangan jadikan aku sesuatu yang menghentikan kehidupanmu. "
Dan bukan siapa- siapa yang akan bangga ketika kamu bisa mengalahkan ketakutanmu kecuali engkau sendiri. Dan tak ada yang lebih bangga ketika kamu bisa menunjukkan perubahan terbesar dan terbaik dalam hidupmu kecuali kamu sendiri. Hiduplah untuk hidup, berubahlah untuk dirimu, bertumbuhlah untuk dirimu. Tanpa kamu kamu harus meminta, siapapun di sekitarmu akan menghargaimu. Selamat berjuang. Demi key, demi ibumu, demi hidupmu sendiri. Aku masih sahabatmu sampai detik ini.
No comments:
Post a Comment